Powered By Blogger

Jumat, 19 Agustus 2011

Umi Kalsum/Cerpen


Sebuah Catatan Untuk Umi Kalsum
Oleh
Muammar Kahadafi


Sudah beberapa hari ini nama gadis itu tak pernah ku sebut lagi dalam pergaulan dengan teman temanku. Namanya seraya menghilang ditelan perasaanku, mungkin karena rasa takutku untuk menyakiti dan mendekatinya. Umi Kalsum, nama yang selama ini dalam hati aku puja dan damba, putri Haji Tabrani dari desa sebelah. Tapi diam diam namanya menyebung keluar dari didalam hatiku malam ini.

“Apa kabar dengan Umi Kalsum?”. Setelah pertemuan kami terakhir itu, aku tidak dapat bertemu ia lagi. Malam itu sengaja aku memberanikan diri menemui dirinya setelah ta’lim Kiai Noer, malam itu aku coba ikhtiar untuk mendekati dirinya. Aku berniat untuk mengantar Umi Kalsum pulang ba’da ta’lim Kiai Noer. Diam diam aku menungguinya didepan Surau pesantren tepat dibawah pohon trembesi yang rimbun itu, berharap untuk dapat menjumpai dirinya sepulang dari mengaji. Setelah beberapa lama aku menungguinya dan ditemani dengan gigitan ‘nyamuk kebon’ yang lumayan membuat kulit ku terasa gatal, akhirnya ia keluar bersama jamah ta’lim. Akupun cepat cepat menghampirinya.

“Asslamulaikum”, tegurku dengan lembut seraya memberi salam kepadanya. “Alaikumsalam”jawabnya dengan penuh keimanan dan ketawaduan. Suaranya lembut bagai ayat suci yang dialunkan dengan tidak berkesudahan. Aku terdian sejeak diam sejuta bahasa, terpaku seperti Yesus yang tersalib atas nama ruh kudus. Aku tepesona dengan teduhnnya wajahnya, ayunya parasnya, birunya matanya, serta jilbabnya yang menuntai menutupi semua anggota auratnya. ‘Astagfirullah”, aku mencoba melepaskan jerat pandangan setan.

Ku beranikan hati dan diri ini untuk mendekatinya, aku beranikan untuk berkata sepatah kata demi untuk memuluskan niat hatiku untuk mengantarnya pulang. Betapa gembiranya aku saat ia mengiyakan dan menganggukan kepalanya saat aku ajak pulang bareng dimalam itu. Akupun langsung menancap gas sepeda motor Supra kesayanganku. Di keramangan malam kami pun hilang dianta deru rota sepeda motor. Dalam perjalan itu pun tidak aku sia siakan, selama perjalan itu kami bercakap cakap, bersenda gurau, walau kali itu pertama kami bertemu. Hatiku mengembang tidak terkira, bahagia ini telah dipelupuk mataku, rona wajahmu membuat aku yakin bahwa engkaulah gadis yang selama ini diciptakan Allah dengan sangat sempurna untuk ku. Terimakasi yaa Allah, mungkin inilah jawaban atas munajad yang selama ini aku panjakan tas nama-Mu. Namanya yang selama ini aku zikirkan dalam sajadah cinta kini ada disampingku

Sejurus perjalanan kami,  dari arah yang kami tuju ku lihat ad sosok tinggi kekar berdiri tegap ditepi jalan mengawasi kami. Ia berdiri tak jauh dari gerbang rumah Umi Kalsum. Mukanya masam bagai orang yang akan melumat santapan mangsanya. Dalam keremanagn itu aku tidak melihat jelas siapa sosok itu sebenarnya. Tetapi ketika Umi Kalsum meminta mendadak untuk menghentikan laju sepeda motorku, aku berkeyakinan bahwa ia adalah orang yang Umi Kalsum kenal. Langkah Umi Kalsum meninggalkan ku menuju arah sosok itu begitu cepat. Tanpa banyak bicara apa apa, aku lihat sebuah tangan mendarat tepat diwajah Umi Kalsum, Umi Kalsum menjerit kesakitan dan berhamburan masuk kerumah.

“Siapa kau?, berani berani bersama anak gadisku?”. Oarng tua itu membentak seraya menajmkan matanya kearahku, dengan geramnya ia mencekik leherku, setengah takut akupun menhindari cekikan itu. “Saya temannya Umi kalsum Pak!” , aku mulai jelas melihat wajah sosok itu, ternyata orang tua itu adalah Ayahanda Umi kalsum. Setengah sopan tan rasa takutku akupun memberanikan diri memberi salam dan mencium tangannya. Betapa kagetnya aku ketika ia memalingkan tanganya tanda ia menolak salamku. “Kau anaknya Aswad kan, anak pedagang sayur itu”, aku langsung mengangguk saat ia menyebut nama orang tuaku. “Kenapa kau berani beraninya jalan berduaan dengan anak gadis keyanganku, aku haramkan kau bergaul dengan anak dan keturunanku, dasar anak petani, sudah punya apa kau hingga berani berani mendekati putriku?”. Betapa kagetnya aku mendengar caci makinya, bagai tersambar petir mendengarnya. Tapi aku tidak berani menimpali sumpah serapahnya itu, hal itu aku lakukan demi Umi Kalsum yang aku punya. “Awas sekali kau dekati anakku, ku ganyang dan kulumat kau!”, orang tua itu setengah mengancamku.

Haji Tanah Abang itu begitu geram melihat dan mengusirku. Hatiku dibuat kesal dengan caci makinya. Aku berfikir apakah ini wajah asli dari Haji tanah Abang itu?” . orang orang dikampung memberikan gelar haji tanah Abang, karena waktu haji dulu ia hanya berkeliaran dan plesiran disekitar wilayah tanah Abang dan baru kembali menggambungkan diri dengan jamaah haji yang baru pulang dari Mekah. Tapi rahasi disiamkan itu akhirnya jadi popular juga di kampung, seperti halnya bangkai walau ditutupi serapat mungkin toh akan tercium juga baunya.

Sesudah haji tanah abang itu meninggalkanku didepan rumah itu untuk masuk. Dari dalam rumah terdengar suara kegaduhan, terdengar jelas rintihan dan tangis gadis yang selama ini aku puja. Rintihan dan tangis Umi Kalsum bagai menyayat hati sembilu. Umi Kalsum melolong kesakitan saat tangan tangan kasar itu mendarat diwajahnya. Aku mencoba membayangkan keadaan Umi Kalsum sekarang, mungkin wajah yang bagai purnama Lailatul Qadar itu sudah membiru terkena tamparan haji tanah abang itu. “Ampun Abi’, ampun Abi”. Hatiku luluh dan leleh seperti semen yang tersiram air, Umi kalsum yang selama ini ku kasihi sekarang menjadi korban kekejaman bapaknya yang durjana. Dan air mataku ini mungkin menjawab seberapa menderitanya ia saat ini.

Tiba tiba hatiku menjadi geram, kesal, dan benci menyelimuti hatiku. Manakal aku bayangkan haji durjana itu. Rasanya aku ingin dating menyelamatkan Umi Kalsum dari cengkraman bandot tua itu. “Dasar haji Durjana, tidak ingatkah kau bahwa yang kau sakiti sekarang adalah darah dagingku sendiri”. Umpatku kepadanya dalam hati. Akupun bergegas pulang meningalkan rumah Umi Kalsum.

Orang kampung mengenal haji Tabrani sebagai orang yang ringan tangan, kasar, dan sering bersikap arogan. Ia juga dikenal kikir, pelit. Akupun pertamanya tidak percaya akan kabar itu, bahwa ia katanya jarang sembahyang dan sebagainya. Dibulan puasa pun ia tak pernah terlihat di surau untuk taraweh dan tidak berpuasa. Pada bulan itu ia sering tertangkap mata sedang asik nongkrong dirumah makan dekat pasar. Seorang temanku bahkan pernah bercerita bahwa ia pernah memegoki haji laknat itu sedang asik makan dan merokok diwarung madura berpelayan janda kembang itu, padahal sebagian orang sdang bepuasa ramadhan. Tapi muka para santri dan para haji diSurau Kiai Noer ia selalu bermanis manis dan berlaku seperti orang laim. Mungkin itu untuk menutupi kebusukannya.

Sedangkan anak perempuannya diharuskan bekerja keras dirumah, diwaktu malam anaknya dipaksa bergadang semalaman untuk memilihkan gabar dari beras, maklum haji Tabrani adalah juragan beras dikampung kami. Anaknya tidak diperbolehkan untuk bergaul dan keluar rumah. Kecuali saat mengaji disurau Kiai Noer anaknya diperbolehkan keluar rumah. Kerapkali itu juga anaknya menjadi korban tangan ringannya ketika anak gadisnya terlambat pulang mengaji. Anak gadisnya menggepar gelepar seperti ayam yang disembelih ketika tangan kasarya mendarat diwajah anak gadisnya.

Haji laknat itu  bahkan bercita cita agar semua anak gadisnya dikawini dengan orang berduit tidak peduli anaknya itu dimadu, seperti putri tertuanya yang bernama Latifa, ia dijodohkan dan dinikahkan oleh lelaki beristri yang udah uzur dan bau tanah. Tidak terkecuali dengan Umi Kalsum, bahkan setelah kejadian malam itu aku mendengar selentingan bahwa Umi Kalsum akan dinikahkan oleh orang seberang beristri tiga. Kabar ini aku dapat dari teman baik Umi Kalsum, Zainab teman sepengajian di ta’lim Kiai Noer.

Pada suatu hari dari sekian banyak hari tanpa mendengar kabar berita Umi kalsum. Aku menerima secari surat dari Umi kaslum yang dititipkan murid TPA ku :


Assalamulakum……..
Salam beserta kasih mudah mudahan kakak selalu  dalam lindungan Allah…
Sudah sejak lama rasanya aku ingin mengungkapkan perasaan ini, tapi jujur aku tak mampu mengutarakannya kepadamu. Udah sejak lama rasanya aku menasbihkan namanmu dalam doaku, ketika zikir, dan pikirku menyatu dalam keheningan malam doaku
Walau kita baru berkenalan, dan aku baru mengenalmu, tetapi debaran dan getaran hatiku aku yakin seirama dengan hatimu. Betapa bahagianya aku ketika melihatmu menghampiri diriku setelah malam ta’lim di Kiai Noer, malam itu begitu indah dan special bagiku. Malam itu aku sangat menikmati kebersamaan kita. Zainab, bercerita banyak tentangmu, setelah malam satu sura itu ketika itu engkau mengalunkan salawat atas Nabi, aku mulai menyukaimu wahai mataraiku…
Kapadamu aku kirimkan seberkas salam terindah, entah dari mana aku mendapatkan wahyu untuk menyusun kata kata ini, untuk ungkapkan segala perasaan yang hampir meledak didada ini, saat kau membaca surat, anggaplah aku sedang ada dihadapanmu dan mengharap iba ditelapak kakimu wahai pemudaku.
Sejak rasa aman ku hilang direnggut orang tuaku. Mungkin kau sudah mendengar bahkan melihat langsung dikejadian malam itu…..
Sejak malam itu aku tidak mempunyai siapa siapa selain Allah dihatiku, dan engkaulah orang pertama yang menggetarkan hati ini, ketika malam itu engkau menyairkan lagu “ Gonilli” malam itu juga aku terbius akan rasa mahabbahku padamu.
Aku tau sejak malam pertemuan itu, kau mungkin menitikkan airmata atas namaku, memang begitulah kelakuan Abi ku selama ini. Ketika orang disekitarku tidak peduli dengan rasa amanku, namun engkau dating dengan harapan surgawi itu…
Malam itu mengira bahwa aku tidak mempunyai siapa siapa hingga aku hampir mengakhiri hidupku. Aku nyaris putus asa, dan hampir mengetuk pintu neraka yang selama ini terkunci rapat, seketika setan hampir mengelincirkan aku dengan rasa sedih yang tidak berkesudahan ini, namun engkau dating dengan secerca harapan…
Anggaplah saat ini aku sedang bersujud dan mencium kedua telapak kakimu dengan air mataku seraya memohon agar engkau melepaskan belenggu ini. Jika engkau berkenan dan mengizinkan aku ingin menjadi budakmu, ikut kemana langkah kakimu, patuh akan titah dan perintahmu, mengabdi dengan ketulusan dan rasa cintaku padamu.
Menjadi budak orang soleh mungkin lebih baik bagiku disbanding menjadi putrid raja yang durjana ini.
Saat ini aku dirundung kesedihan yang tidak berkesudahan, aku takut akan bapakku yang kasar itu, aku bahkan akan dijualnya dengan bandot trua yang bau tanah itu.
Jujur aku merasa siada pantas utuk kau miliki lagi, kehormatan yang selama ini aku sucikan untuk calon suamiku kini telah direnggut oleh tua laknat itu, tetapi rasa iba dan empati yang sekarang ada dihati yang dialiri pancaran surga pasti mendengar jerit hati ini.
Malam ini aku telah terbakar, terbakar api asmaramu yang suci, aku mungkin sudah gila segila Laila yang Majnun akan cintanya. Aku dimabuk cinta seperti mahabbahnya Rabiah al Adawiyah dalam cintanya kepada Allah.
Sekiranya engkau berkenan membawaku pergi dalam neraka ini, aku sangat berterima kasih…

Dari orang yang mengharapkan pertolonganmu…..
Wassalam
Umi kalsum yang malang

Tak terasa air mata membasi kelopak mataku, aku seolah merasakan apa yang Umi kalsum rasakan, ia sangat ketakutan, rasa aman terenggut oleh orang tuanya sendiri. Aku seka airmataku, kulipat surat Umi Kalsum dan kumasukkan kedalam amplop semula.

Sore menjelang asar setelah terkirimnya surat Umi Kalsum itu, akuun memberanikan untuk dating kerumahnya. Betapa kagetnya aku ketika baru saja sampai didepan rumah Umi Kalsum.

Terdengar teriakan dan longlongan  teriak dan sumpak serapah dari dalam rumah. “Bangsat, dasar kau tua tua keladi, dikiranya aku pelacur yang seenak udengmu dapat dikotori”, terdengat suara sumpah serapah.

“Dasar laknat, tua bangka!” suara itu rasa rasanya aku mengenalnya, suara perempuan. Seketika aku melihat Umi Kalsum dengan wajah semeraut keluar dari dalam rumahnya. Karuan saja satu kampung dan tetangga sekitar gaduh. Tapi akhirnya dengan kesigapan warga sekitar Umi kalsum yang saat itu tidak mengenakan apa apa alias telanjang ditangkap dandikembalikan kedalam kamarnya.

Haji Tabranirupanya sudah kewalahan merawat anak gadisnya yang kini gila. Umi Kalsum yang dulu aku cintai kini telah gila. Hatiku begitu hancur melihat kenyataan ini. Andai saja sejak pengiriman surat itu aku ajak kabur pergi dari haji laknat itu, mungki tidak begini keadaannya, arasa sesalku kini tak bisa mengubah apa apa selain melahirkan penyesalan yang tidak terkira. Sore itu rumah Haji Tabrani dikerumuni orang yang ingin melihat langsung keadaan anak gadisnya

Setelah pertemuan itu aku tidak mendengar lagi Umi Kalsum. Selentingan kabar bahwa ia dibawa haji Tabrani kepulau Sumatra untuk diobati oleh orang pintar disana.

        

2 komentar:

  1. Bisa buat kata-kata kunci yang berkaitan dengan topiknya.kemudian buatlah menjadi Katangka cerpen secara kronologis

    BalasHapus